RSS

[Foto & Video] Kunjungan ke Museum A.H. Nasution

02 Okt

Dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Oktober kemarin, saya mau menulis tentang kunjungan saya ke Museum A.H. Nasution. Well, kalau kita bicara tentang museum (utamanya museum sejarah), masih banyak yang menganggapnya tempat yg agak aneh untuk dijadikan sasaran jalan-jalan (kecuali Museum-Museum yang ada di daerah Kota Tua sana, krn terkesan Eropa banget…), padahal justru dari sanalah info-info langsung mengenai suatu sejarah bisa dilihat dengan mata kepala sendiri….

Langsung saja, kunjungan saya ke museum ini tidak sendirian, saya sendiri pergi berkunjung bersama-sama dengan teman-teman dari Komunitas Historia Indonesia. Meskipun jumlah pesertanya ternyata sedikit, tapi acara tetap berlangsung. Isi dari museum itu apa saja? Sebenarnya sudah bisa ditebak: barang-barang peninggalan Alm. Jenderal A.H. Nasution dan keluarganya. Namun ternyata lebih dari itu. Di museum ini juga dijelaskan sebuah peristiwa yang hampir merenggut nyawa Pak Nas (panggilan Alm. A.H. Nasution), namun ternyata merenggut nyawa putrinya, Ade Irma Suryani Nasution. Agar terasa realistik, beberapa bagian museum ini juga dipasang patung-patung diorama yang berukuran asli (life-size) seperti ketika adegan Kapten Pierre Tendean ditangkap, Pasukan Tjakrabirawa sedang mendobrak pintu kamar Pak Nas, dll…

Berikut ini foto-fotonya

Patung Jenderal Besar A.H. Nasution yang ada tepat di depan museum

Plang Nama Museum

Teman-Teman dari KHI yang baru tiba

Setelah tiba di museum, saya baru mengetahui bahwa ternyata acara ini juga diliput oleh majalah Popular dan Kompas TV. Setelah acara pembukaan, kami disambut oleh guide resmi sekaligus staff penjaga dari museum ini. Dari sini, cerita-cerita mengenai kejadian berdarah 47 tahun yang lalu itupun pun dimulai…

Guide dari Museum A.H. Nasution (berbaju coklat). Saya lupa namanya siapa, hehe…

Kru Kompas TV yang sedang meliput kunjungan kami

Pak Guide ini mulai bercerita. “Bangunan ini dihuni oleh keluarga Pak Nas sejak tahun 1947 hingga tahun 2008, setelah itu diserahkan kepada negara untuk direnovasi dan dijadikan museum”, ceritanya. Ia kemudian menunjuk beberapa benda dan tempat yang ada di ruang depan. Ia menunjuk sebuah foto Pak Nas ketika kejadian G30S/PKI terjadi. Foto itu ternyata juga dijadikan referensi para pasukan penculik yang akan menculik beliau. Lalu ia menjelaskan kronologis lengkap dari kejadian ini. “Pasukan Tjakrabirawa masuk lewat ruang depan ini, lalu merangsek ke dua pintu ini, pintu ruang tamu dan pintu lorong:, ujarnya sambil menjunjuk dua pintu tertutup yang ada di ruang depan itu. Selain itu, bapak guide ini juga menunjukkan beberapa benda kengan-kenangan dan furnitur yang digunakan semasa Alm. Jendral Nasution hidup. “Sekarang, mari masuk ke ruangan menulis Pak Nas.” Pak Guide ini kemudian mengarahkan kami ke Ruang Kerja Jendral A.H. Nasution.

Bapak Guide kami sedang menjelaskan beberapa benda yang ada di dalam Museum

Gading gajah kenang-kenangan Pasukan Garuda III Congo

Foto Bapak Jendral A.H. Nasution sekitar tahun 1965

Kami kemudian masuk ke dalam ruang menulis Pak Nas. Semasa hidupnya, Jendral A.H. Nasution juga aktif menulis, ini dibuktikan dengan adanya sebuah rak buku besar yang penuh dengan buku-buku karya beliau. Dalam ruangan tersebut juga ada sebuah meja tulis. Agar terkesan hidup, ada juga patung berukuran asli dari Pak Nas yang menggambarkan beliau yang sedang menulis. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Fundamentals of Guerilla Warfare yang dijadikan buku wajib di akademi militer West Point, Amerika Serikat. Di dalam ruangan itu juga terpajang beberapa foto dan penghargaan, beberapa diantaranya adalah ketika beliau mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari sebuah universitas di Filipina. Setelah melihat-lihat ruang tulis, kami diajak melihat sekilas ruang tamu dari rumah ini, lalu kemudian menuju kamar tidur Pak Nas.

Rak Buku yang penuh dengan buku-buku karya Jendral Besar A.H. Nasution

Diorama berukuran life-size yang menggambarkan Pak Nas sedang menulis.

Kami masuk ke dalam kamar tidur Pak Nas melalui sebuah lorong yang ada di tengah-tengah museum ini. Di dalam lorong ini juga terdapat tiga patung life-size yang menggambarkan tiga pasukan Tjakrabirawa yang sedang mendobrak pintu kamar Pak Nas. Setelah sampai ke kamar tidur, Bapak Guide kami kemudian bercerita kembali. “Di sinilah peristiwa itu terjadi. Waktu itu masih jam 3 pagi, namun Pak Nas masih belum tidur, masih mengusir nyamuk-nyamuk yang ada di kamar ini.”, ceritanya. Lalu ia melanjutkan, “Para pasukan Tjakrabirawa ini mencoba mendobrak masuk pintu kamar ini, namun berhasil ditahan oleh Ibu Johana, istri dari Pak Nas. Karena ada ribut-ribut, Ade Irma kemudian terbangun, lalu diserahkan kepada Ibu Johana kepada Ibu Mardiyah. Kemudian Bu Johana memandu Pak Nas untuk kabur ke kedutaan besar Irak yang ada tepat di sebelah museum ini. Nah, saat itu Ibu Johana bilang kepada Ibu Mardiyah kalau pintu kamar tidur ini jangan dibuka, karena ada pembunuh.” Kami pun masih penasaran sambil mendengarkan cerita dari Bapak Guide ini. “Nah”, lanjutnya lagi, “Karena gagang pintu ini digobrak-gabrik oleh pasukan di luar, Bu Mardiyah yang menggendong Ade Irma ini penasaran, kemudian membuka sedikit pintu ini. Ketika dibuka, seorang pasukan Tjakrabirawa yang bernama Herdiyono langsung melepas tembakan. Lubang-lubang bekas tembakan ini masih ada di pintu ini”, ceritanya sambil menunjukkan beberapa lubang yang masih ada di pintu kamar tidur Pak Nas, ditandai dengan selotip kuning. “Bu Mardiyah terkena tembakan, 2 peluru kena tangannya. Sedangkan Ade Irma, ia juga tertembak, ada 6 butir yang bersarang di sekitar tulang punggung dan perutnya.”

Diorama tiga anggota Tjakrabirawa yang mendobrak masuk pintu kamar Pak Nas.

Diorama yang menggambarkan Pak Nas yang masih terbangun

Kami sedang mendengarkan cerita dari guide museum. Tampak di depan: Patung tentara Tjakrabirawa yang bernama Hardiyono (atau Herdiyono? saya lupa tepatnya)

Close up dari salah seorang pasukan Tjakrabirawa

Kalau ini adalah lubang bekas tembakan Tjakrabirawa di pintu kamar tidur Pak Nas, ditandai dengan lingkaran kuning.

Video rekaman Bapak Guide museum yang sedang bercerita di kamar ini

Kemudian kami dibawa ke Ruang Gamad (Ruang Ganti Baju), Berdasarkan keterangan dari Guide museum ini, Pak Nas dibawa oleh Istrinya untuk kabur ke kedubes Irak, keluar melalui kamar ini. Waktu itu Istri beliau sedang menggendong putrinya yang sudah bersimbah darah. Di Ruang Gamad ini ada diorama lagi yang menggambarkan usaha Pak Nas untuk kabur dengan memanjat tembok dan Diorama istri beliau yang sedang menggendong putrinya, Ade Irma. Kemudian, Pak Guide ini kembali bercerita “Dari ruangan ini, Pak Nas keluar dan manjat tembok yang ada di luar. Tembok itu sebelahan dengan Kedubes Irak. Awalnya ketika memanjat tembok ini, Pak Nas kemudian ragu karena melihat putrinya yang sudah berdarah karena tembakan tadi. Namun karena ditembaki pasukan Tjakrabirawa yang berjaga-jaga di luar, Pak Nas kemudian jatuh ke dalam kedubes Irak, dan kakinya patah karena terkena pot bunga di bawahnya.” Dan ternyata pot bunga ini masih ada disimpan di dalam Ruang Gamad sebelumnya. “Sekarang temboknya sudah ditinggikan, sebelumnya temboknya setinggi ini…”, kata pak guide sambil menunjuk retakan di tembok yang menandai tinggi awal tembok museum. “Kemudian Bu Nas sambil membawa Ade Irma, masuk ke dalam ruang makan untuk melaporkan apa yang terjadi lewat telepon, nah ruang makan lewat sini…” Kemudian kami diajak masuk ke dalam ruang makan museum ini.

Diorama di Ruang Gamad museum yang menggambarkan Istri dari Pak Nas yang sedang menggendong Ade Irma, putrinya, yang sudah bersimbah darah.

Diorama lainnya yang menggambarakan usaha Pak Nas yang berusaha kabur dengan memanjat dinding pagar rumahnya

Di Tembok inilah Jendral A.H. Nasution berusaha kabur dari pasukan Tjakrabirawa yang berusaha untuk menculik beliau

Video ini merekam cerita pak guide dari luar museum hingga bagian ruang makan.

Setelah sampai di ruang makan, Pak Guide kembali bercerita. “Sambil membawa Ade Irma yang terluka parah, Bu Nas mencoba menghubungi Pangdam Jaya waktu itu, Bapak Umar Wirahadikusuma, mengenai kejadian yang terjadi di rumahnya. Ternyata di ruang makan itu, sudah ada 5 orang dari Tjakrabirawa, yang sebelumnya telah memutus telepon tersebut. Tugasnya memang memutus komunikasi rumah. Ketika ditanya di mana Pak Nasution, Bu Nas menjawab ‘Beliau sudah 2 hari di Bandung.’ Sementara itu di luar, Kapten Pierre Tendean berusaha untuk menghadapi para pasukan Tjakrabirawa itu, namun kemudian ia ditangkap oleh mereka. Ketika ditangkap, Kapten Tendean bilang begini ‘Saya Ajudan Pak Nasution’, Namun karena ribut-ribut waktu itu dan wajah Kapten Tendean yang tidak terlihat jelas karena masih gelap, pasukan Tjakrabirawa menyangka Kapten Tendean sebagai Pak Nasution. Kemudian mereka membawa Kapten Tendean dan membunyikan peluit sebagai tanda bahwa ‘Target sudah ditangkap’. Setelah peluit itu bunyi, para pasukan Tjakrabirawa ini kemudian pergi meninggalkan rumah pak Nas.” “Nah bagaimana dengan Ade Irma sendiri? Ia sekarat dan dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto, sebelum ia wafat tanggal 6 Oktober.” Kemudian kami dibawa ke Ruang Ade Irma yang berisi peninggalan Ade Irma Suryani Nasution.

Diorama Bu Nas yang sedang menggendong putrinya di ruang makan

Diorama dari Pasukan Tjakrabirawa yang memutus alat komunikasi.

Ada sebuah fakta menarik yang dijelaskan oleh guide itu. Menurutnya, semua diorama yang ada di dalam Museum ini dibuat berdasarkan kesaksian Bu Nas. Jadi wajah-wajah diorama ini, dibuat berdasarkan ciri-ciri yang diceritakan oleh Bu Nas, agar kelihatan seperti asli. Ketika di Ruang Ade Irma, Pak Guide ini kembali bercerita. “Di sini ada beberapa peninggalan Ade Irma semas hidup, seperti boneka, tempat minum, bahkan seragam tentara miliknya.” Di ruangan ini juga terdapat foto Kapten Pierre Tendean bersama Ade Irma, seminggu sebelum kejadian G30S/PKI, Obituari koran, dan lukisan yang berisi kata-kata terakhir Ade Irma sebelum meninggal.”

Boneka dan barang-barang peninggalan Ade Irma lainnya

Dan sebelum acara ini selesai, kami diajak untuk masuk ke dalam ruang senjata. Ruang senjata ini berisi senjata-senjata pribadi Jendral A.H. Nasution dan senjata yang digunakan pasukan Tjakarabirawa saat kejadian berlangsung.

Sebelum keluar, kami dipersilahkan masuk ke ruang diorama terakhir, yaitu ruang diorama yang berisi perjuangan-perjuangan Jendral A.H. Nasution semasa hidup, dan diorama penangkapan Kapten Pierre Tendean.

Selama kami berada dalam museum ini, kami disuguhi oleh cerita-cerita dari guide kami, dan peninggalan-peninggalan serta barang pribadi dari Jendral A.H. Nasution, yang membuat kami serasa flashback ke kejadian berdarah itu, tanggal 1 Oktober 1965, pukul 3 Pagi.

Jika Anda tertarik mengunjungi museum ini, museum ini berada di Jl. Teuku Umar, berada persis di sebelah dubes Irak. Jalan kaki hanya beberapa menit dari Taman Suropati. Museum ini tidak memungut biaya, namun museum ini menerima sumbangan dari pengunjung yang digunakan untuk membeli peralatan kebersihan museum ini.

Museum Jenderal AH Nasution
Jalan Teuku Umar 40, Menteng, Jakarta Pusat
Telp.: (021) 314 1975, Faks.: (021) 3192 5084
Jam buka: Selasa-Minggu, pukul 08.00-14.00 WIB
Tiket masuk: gratis

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 2, 2012 in Uncategorized

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: